Hubungan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memanas. Sumber senior AS yang dikutip Wall Street Journal menyebutkan, Trump meluapkan kekesalannya kepada Netanyahu melalui sambungan telepon menyusul serangan Israel ke Doha, Qatar.
Serangan udara tersebut menargetkan perwakilan Hamas dan terjadi saat negosiasi gencatan senjata di Jalur Gaza sedang berlangsung. Trump, menurut laporan tersebut, merasa frustrasi dan terkejut dengan keputusan Netanyahu yang dinilainya tidak bijaksana.
Trump menyatakan kemarahannya lantaran Israel meluncurkan serangan dari pangkalan militer AS. Rudal yang ditembakkan justru menghantam wilayah Qatar, salah satu sekutu penting AS yang berperan sebagai mediator dalam perundingan damai.
Dalam panggilan telepon tersebut, Netanyahu beralasan bahwa ia memiliki waktu singkat untuk melancarkan serangan dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Namun, dalam panggilan kedua yang berlangsung lebih tegang, Trump mempertanyakan keberhasilan serangan itu, yang tidak bisa dijawab pasti oleh Netanyahu.
Hamas sendiri mengonfirmasi bahwa para pemimpin mereka selamat, meskipun lima anggota kelompok dan satu petugas keamanan Qatar tewas dalam insiden tersebut.
Serangan Israel ini dikecam keras oleh Qatar, yang menyebutnya sebagai tindakan pengecut dan pelanggaran nyata hukum internasional. Qatar memperingatkan bahwa mereka tidak akan menoleransi tindakan sembarangan Israel di wilayahnya.
Sebagai respons, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani pada Rabu (10/9/2025) menyatakan bahwa negaranya sedang menyiapkan respons kolektif dengan mitra-mitra Arab dan Islam di kawasan.
Frustrasi Trump pada Netanyahu
Kendati dikenal sebagai pendukung kuat Israel, frustrasi Trump terhadap Netanyahu semakin memuncak. Selama ini, Netanyahu kerap mengambil langkah-langkah agresif tanpa masukan dari Washington, yang sering kali bertentangan dengan tujuan AS di Timur Tengah.
Serangan terhadap delegasi Hamas di Doha adalah contoh terbaru dari tindakan unilateral yang dinilai dapat mengganggu stabilitas regional.
Serangan ini terjadi di tengah upaya mediasi penting yang dimotori oleh Qatar, AS, dan Mesir untuk mengakhiri perang di Gaza. Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 64.600 warga Palestina sejak Oktober 2023. Tindakan Israel ini justru merusak kepercayaan yang telah dibangun dalam perundingan.
Meski militer Israel mengeklaim serangan tersebut menargetkan pemimpin senior Hamas, dampaknya telah memicu ketegangan diplomatik serius. Keterlibatan AS yang tidak disengaja dalam serangan ini melalui penggunaan pangkalan militernya semakin memperumit posisi Trump dan kebijakannya di Timur Tengah.
Kini, bola panas ada di tangan para pemimpin di Timur Tengah. Respon kolektif yang sedang dibahas oleh Qatar dan sekutunya bisa menjadi penentu arah baru bagi konflik di kawasan yang sudah lama dilanda ketidakstabilan.














