Israel terus berulah. Setelah berbulan-bulan membantai warga sipil tak berdosa di Jalur Gaza, kini tangan-tangan kotor Zionis itu sudah menjangkau ibu kota Qatar, Doha. Serangan udara brutal yang menewaskan sejumlah negosiator senior Hamas pada Selasa (9/9/2025) memicu kemarahan berbagai negara, termasuk China.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dengan tegas mengecam serangan tersebut. Dalam konferensi pers di Beijing, ia menyebut serangan itu sebagai ‘pelanggaran Israel terhadap integritas wilayah dan keamanan nasional Qatar’.
Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi diplomatik. Ini adalah sinyal bahwa Beijing sudah muak dengan arogansi Zionis yang tak mengenal batas.
Serangan itu terjadi saat delegasi Hamas sedang duduk bersama, membahas proposal terbaru dari Amerika Serikat untuk gencatan senjata di Gaza. Ironisnya, di tengah upaya damai, Israel justru menebar teror.
Saksi mata melaporkan beberapa ledakan mengguncang pusat Doha, menargetkan tempat yang dihuni anggota biro politik Hamas. Serangan ini menewaskan lima orang, termasuk Hammam al-Hayya, putra pemimpin Hamas, Khalil al-Hayya.
Meskipun delegasi utama negosiasi selamat, serangan ini jelas merupakan upaya pembunuhan yang disengaja untuk menggagalkan perundingan.
China sangat prihatin, karena serangan tersebut berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan. “Penggunaan kekerasan tidak akan membawa perdamaian ke Timur Tengah. Dialog dan negosiasi adalah jalan keluar yang fundamental,” tegas Lin Jian.
Diplomasi Penuh Darah
Pernyataan Lin Jian juga menyoroti peran negara-negara besar yang ‘sangat berpihak’ pada isu Timur Tengah –sebuah sindiran telak untuk Amerika Serikat (AS). China mendesak negara-negara tersebut untuk mengambil sikap yang ‘adil dan bertanggung jawab’ dan tidak malah membiarkan Israel leluasa melancarkan aksi-aksi yang membahayakan.
Hamas sendiri menyebut serangan tersebut sebagai ‘agresi terhadap kedaulatan negara Qatar yang bersaudara’. Mereka juga menegaskan bahwa serangan itu tidak akan menggoyahkan posisi dan tuntutan mereka, yaitu penghentian total agresi Israel, penarikan penuh tentara dari Gaza, pertukaran tahanan yang adil, bantuan kemanusiaan, dan rekonstruksi.
Qatar, yang bersama Mesir dan AS menjadi mediator kunci dalam negosiasi, juga mengecam keras serangan “pengecut” tersebut. Kementerian Luar Negeri Qatar menyebutnya sebagai “pelanggaran berat terhadap semua hukum dan norma internasional, serta ancaman serius terhadap keselamatan warga negara Qatar dan asing”.
Yang paling mengejutkan, Presiden AS Donald Trump justru mengaku tidak terlibat dan menyalahkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Trump bahkan meyakinkan Qatar bahwa serangan semacam itu tidak akan terjadi lagi. Sebuah pengakuan yang menunjukkan betapa kusutnya relasi antara AS dan Israel dalam urusan ini.
Serangan di Doha ini bukan hanya soal pembunuhan target tertentu, tetapi juga tentang pembunuhan proses perdamaian. Ketika para negosiator sedang berusaha mencari jalan keluar dari neraka Gaza, Israel justru mengirimkan bom. Ini adalah pesan yang jelas: Israel tidak menginginkan perdamaian, mereka menginginkan dominasi. Dan dunia, sekali lagi, hanya bisa mengecam.














