Dua aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla Thiago Avila (kiri) dan Saif Abukeshek (kanan) dikawal oleh petugas penjara Israel menuju sidang di Pengadilan Distrik Ashkelon, pada 3 Mei 2026. (Foto: AFP/Ilia Yefimovich)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan pernyataan tegas mendesak otoritas Israel untuk segera membebaskan dua aktivis kemanusiaan dari misi Global Sumud Flotilla. Desakan ini muncul menyusul keputusan pengadilan Israel yang memperpanjang masa penahanan keduanya di tengah laporan kondisi penjara yang memprihatinkan.
Juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, menegaskan posisi organisasi internasional tersebut terhadap penahanan Thiago de Avila asal Brasil dan Saif Abukeshek, aktivis Spanyol keturunan Palestina.
“Mereka harus dibebaskan,” ujar Dujarric dalam konferensi pers di New York, Selasa (5/5/2026) waktu setempat, menanggapi pertanyaan terkait nasib kedua relawan tersebut.
Penahanan di Perairan Internasional
Penahanan ini bermula dari aksi militer pasukan Israel yang menyerang armada Global Sumud pada 30 April 2026 lalu. Ironisnya, pencegatan tersebut dilakukan di dekat Pulau Kreta, Yunani, yang berjarak sekitar 600 mil laut dari wilayah blokade Gaza—titik yang berada jauh di perairan internasional.
Kelompok advokasi Adalah mengungkapkan bahwa pengadilan Israel telah memutuskan untuk menahan de Avila dan Abukeshek setidaknya hingga 10 Mei mendatang. Pengacara para aktivis bersikeras bahwa tuduhan yang disematkan otoritas Israel kepada klien mereka sama sekali tidak berdasar secara hukum.
“Menahan keduanya adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Tuduhan terhadap mereka murni tidak berdasar,” tegas tim hukum para aktivis selama persidangan berlangsung.
Ancaman Kematian dan Isolasi Total
Laporan mengenai kondisi penahanan kedua aktivis tersebut sangat mengkhawatirkan. Adalah membeberkan fakta bahwa de Avila dan Abukeshek ditempatkan dalam sel isolasi total.
Keduanya dilaporkan menerima “ancaman kematian” selama berada di dalam penjara Israel. Selain intimidasi verbal, otoritas penjara juga diduga menerapkan metode tekanan psikologis ekstrem dengan membiarkan lampu sel menyala terang terus-menerus selama 24 jam penuh.
Hingga saat ini, pihak PBB belum memberikan komentar lebih detail mengenai langkah diplomatik lanjutan yang akan diambil. Namun, sorotan dunia kini tertuju pada nasib para relawan kemanusiaan yang mencoba menembus blokade Gaza tersebut.
Konflik ini menambah daftar panjang ketegangan internasional terkait misi bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina, di mana keselamatan para aktivis global kian terancam di bawah kebijakan keamanan ketat Israel.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














